[hikmah dalam kisah] Selamat Tinggal Dunia

tulisan assalamualaikum warohmatullah arab

Saat menjelajah situs jejaring sosial, saya teringat pernah membaca sebuah catatan yang ditulis oleh Darwis Tere Liye. Mengisahkan seorang anak kecil, sebut saja Boy, yang masuk ke dalam taman bermain setelah mendapat tiket karcis. Batas waktunya tidak lama, hanya 2 jam saja.

Continue reading

Cerita pendek si Tukang Kayu

Seorang tukang kayu yang sudah lanjut usia ingin berhenti bekerja. Ia berharap bisa menikmati masa tua. Tukang ini merupakan kesayangan tuannya karena ia adalah Tukang Kayu terbaik pada masa itu. Ia sangat ahli dalam membuat rumah dari kayu.

tukang kayu

Tukang kayu ini kemudian mengemukakan keinginannya untuk pensiun. Tuannya menyetujui, tetapi dengan satu syarat. Dia meminta tolong kepada tukang kayu agar membuatkan satu rumah lagi sebelum berhenti bekerja.

“Hai Tukang kayu, sebelum berhenti, tolong buatkan saya sebuah rumah. Anggap saja ini rumah terakhir yang kamu bangun “. demikian ucapnya.

Si tukang kayu menyanggupi permintaan itu. Kemudian ia mulai mengerjakan pembuatan rumah. Selama proses membangun, ia tidak bekerja sepenuh hati.  Hatinya sudah dipenuhi oleh keinginan dan angan-angan untuk pensiun . Pekerjaan menyerut, mengepas, bahkan proses finishing dikerjakan dengan asal-asalan, tidak teliti.

‘yang penting rumah ini jadi’, pikirnya. Ia juga tidak begitu peduli dengan kualitas kayu-kayu yang digunakan.

Akhirnya, setelah tiga bulan bekerja, rumah pesanan sang Tuan selesai. Dan tentu saja rumah tersebut jauh dari indah seperti yang biasa ia buat.

Si tukang kayu lalu menghadap tuannya dan mengatakan bahwa permintaan terakhir sang Tuan telah terpenuhi. Seketika, Tukang kayu sangat kaget mendengar ucapan  tuannya,

“Selama ini  Bapak telah membuatkan banyak rumah indah untuk saya,

dan sekarang….

saya ingin memberikan rumah terakhir yang baru saja dibangun sebagai ucapan terima kasih saya untuk Bapak” demikian ujar sang Tuan yang baik hati.

rumah kayu

rumah kayu

Tukang kayu menyesal sekali. Mengapa ia tidak bersungguh-sungguh  ketika membuat rumah terakhirnya? Mengapa ia tidak memilih material paling baik, mengerjakan sepenuh hati, dan mendesain dengan indah seperti  yang biasa  ia lakukan?

Tapi nasi telah menjadi uduk bubur  *hehe, biar ga terlalu serius yang baca :) *

rumah itu telah selesai dibangun, dan ia akan menempati rumah terakhirnya untuk menikmati masa pensiun. mungkin ditemani rasa penyesalan seumur hidup.

Dalam kehidupan yang sebenarnya.  Tidak peduli kapan  kita akan berhenti. Apapun tugas yang diberikan oleh atasan, dosen, guru, orangtua, atau bahkan perintah dari Allah SWT,  harus sungguh-sungguh kita kerjakan.  Karena hasil dari ‘tugas’ tersebut, pada hakikatnya akan kembali untuk diri kita sendiri.

Selamat menjalani hidup dengan semangat. :)

Riezka Amalia Faoziah

[ini cerita] Kepakkan Sayap Elang

Seorang ahli biologi tengah berjalan melewati sebuah peternakan di sebuah desa, dengan tidak sengaja dia melihat  seekor anak elang yang hidup berbaur bersama dengan gerombolan anak ayam,  dia merasa sangat heran.

Dia lalu bertanya kepada pemilik peternakan, “Mengapa seekor elang yang sebenarnya adalah raja dari rumpun unggas, bisa hidup bersama dengan gerombolan ayam? Ini sulit dipercaya.”

Pemilik peternakan menjelaskan dengan berkata, “Karena saya setiap hari memberi dia makan dengan makanan ayam, menganggap dan melatih dia sebagai seekor ayam, membiarkan dia hidup sama persis dengan kehidupan ayam, maka burung elang tersebut tidak bisa terbang hingga sekarang. Segala tindak tanduknya sama persis dengan seekor ayam. Lama lama, sang elang  sudah menganggap dirinya adalah bagian dari gerombolan ayam-ayam , dan bukan sebagai seekor elang .”

Ahli biologi ini berkata, “Begitukah? Saya yakin watak hakiki itu tidak bisa berubah. Dia asalnya adalah seekor elang, seharusnya bisa segera terbang jika diajarkan terbang.”

Setelah ahli biologi dan pemilik peternakan melewati suatu perundingan, akhirnya pemilik setuju untuk mencoba mengajarkan elang itu untuk terbang.

Dia mengamati bagaimana ahli biologi itu perlahan-lahan meletakkan elang itu di atas lengannya, lalu berkata, “Kamu seharusnya terbang di atas langit yang biru, bukan berdiri di tanah, kepakkan sayapmu, terbanglah dengan gagah berani!”

Elang tersebut mendengarkan dengan penuh keraguan karena ia tidak memahami perkataan dari ahli biologi tersebut. Ketika dia melihat gerombolan ayam sedang mematuk makanan di atas tanah, elang melompat turun dan berkumpul dengan mereka.

Si ahli biologi tidak putus asa, dia membawa sang elang ke  atap rumah, seraya berkata, “Sebenarnya dirimu adalah seekor elang, kamu bisa terbang, bentangkan sayapmu dan terbanglah!”

Elang  merasa ketakutan terhadap dunia yang asing dan status dirinya yang tidak jelas. Ketika dia melihat bayangan dari gerombolan ayam, dia melompat turun,  ikut serta (lagi) mematuk makanan di atas tanah.

Hingga hari yang ketiga, ahli biologi sengaja bangun sangat pagi, membawa burung elang ini ke atas gunung. Raja unggas ini dia angkat tinggi di atas kepalanya, sekali lagi dengan nada yang penuh dengan keyakinan dia berkata, “Kamu benar-benar adalah seekor elang, kamu pemilik langit yang biru ini bukan pemilik kandang ayam yang kecil itu, bentangkan sayapmu kepakkan dan terbanglah dengan gagah berani!”

Elang itu menengok ke tanah pertanian yang berada di kejauhan, lalu melihat ke atas langit. Ragu-ragu untuk sejenak, tetapi masih tetap tidak mau terbang.

Ahli biologi itu sekali lagi menjunjung tinggi elang ke arah matahari. Selanjutnya, kemukjizatan terjadi! Tubuh elang mulai bergetar, lalu perlahan-lahan ia membentangkan sayapnya.  Sang elang terbang  dengan gagah memekikkan suara kemenangan. . .

elang

tulisan : epochtimes

sumber : http://www.epochtimes.co.id/kehidupan.php?id=119

Inspirasi dari cerita diatas
Elang di dalam cerita ini berbaur dan dibesarkan dalam gerombolan ayam , sehingga nalurinya sebagai seekor predator telah pudar. Ketika ia melepaskan diri dari lingkungan itu dan kembali ke jati diri yang sebenarnya, saat itulah ia telah memulihkan nalurinya untuk terbang diantara langit.

Manusia, sering  terpengaruh oleh apa yang terus-menerus dilihat dan didengar. Beruntung jika informasi tersebut positif, tapi bila negatif dan hanya membuat diri semakin kerdil? hal itu tidak bisa dibiarkan, sejatinya kita memiliki potensi besar yang disebut bakat.

Jika dapat mencampakkan belenggu (yang selama ini tanpa disadari sudah kuat merantai), dan dapat melompat keluar dari gangguan-gangguan hati, maka kita bisa kembali ke jati diri kita yang asli, mengembangkan sayap potensi.. dengan bebas, tak terikat.

 

Sabar seperti Ayub

Rabu, 26 Oktober 2011

00.28

Adakalanya, ketika perasaan ini ingin menangis, tertekan, merasa tak memiliki teman, saya seolah-olah menjadi orang yang paling menyedihkan di dunia.

Seperti malam ini.

…………………………………………….

Saya ingin menangis, tertekan, merasa tak memiliki teman.

Dan entah kenapa, tiba-tiba saja ketika ba’da magrib saya berada diantara kerumunan anak-anak sekitar  kelas 3 SD,  terlintas dalam benak untuk bercerita tentang Nabi Ayub A.S.

^^^^^^^^^^^^^^^^^^

Belasan tahun silam rasanya belum begitu lama.

Masih lekat persis dalam ingatan, saat saya seumuran dengan mereka. :)

Mang Ujang, begitu sapaan akrab guru ngaji riezka, bercerita tentang kesabaran yang luar biasa dari sosok manusia yang dipilih oleh Allah SWT sebagai nabiNya, ialah Ayub Alaihi Salam.

Nabi Ayub adalah representasi paling pas, untuk sebuah kalimat bijak yang sering diucapkan oleh salahsatu teman yang menginspirasi, Memed Saebatul Hamdi, “… Kesabaran itu tidak ada batasnya.”

^^^^^^^^^^^^^^^^^^

Di tengah hartanya yang melimpah, pertanian yang begitu subur, ternak yang begitu makmur, anak-anak yang banyak, dan seorang istri yang shalehah, nabi Ayub diterpa musibah.

Borok-borok yang menimbulkan bau amis secara misterius menggerayangi seluruh tubuhnya. Hampir tak ada sejengkalpun bagian kulitnya yang tidak ditutupi borok.

Hal itu ditambah mengerikan dengan ratusan belatung(atau mungkin ribuan!) yang menggerogoti setiap borok nabi Ayub.

Dengan kondisinya yang memprihatinkan, tak pernah sedikitpun terlihat nabi Ayub mengeluh atau menitikkan air mata yang menunjukkan perih tiada terkira. Ia menerima ‘penyakit’ aneh tersebut dengan lapang dada. Bahkan, setiap kali hendak mandi, Nabi Ayub melepas satu persatu belatung pada boroknya.

Dulu Mang Ujang mempraktekan bagian ini dengan gerakkan tangan kanan seolah-olah menjepit benda kecil(belatung) dari tangan kiri secara berulang-ulang. :)

Bayangkan!

Satu persatu belatung itu ditaruh oleh nabi Ayub.

Dan selepas mandi, dengan penuh cinta dan kesabaran pada Tuhannya (Allah SWT), beliau  memunguti belatung-belatung kecil itu untuk ditempelkan kembali ke tubuhnya…. Subhanallah. Hanya Nabi Ayub yang sanggup.

Beruntung Nabi Ayub memiliki seorang istri yang shalehah, setia menemani walau orang-orang di sekeliling Ayub sudah menjauhi. Lantaran bau dan borok menjijikkan yang dianggap tidak wajar.

Cobaan datang lagi, anak-anak nabi Ayub meninggal secara beruntun tanpa diketahui penyakit yang mendera mereka. Istri Nabi Ayub tak setegar suaminya, ia memilih pergi meninggalkan Nabi Ayub karena sudah tak tahan dengan musibah kematian anak-anaknya. Ditinggal keluarga terdekat, samasekali tidak menggetarkan keimanan Nabi Ayub. Hal tersebut justru membuat dirinya menjadi semakin dekat pada sang Pencipta. Sekali lagi, hanya dzikir dan doa yang menghiasi mulut penuh borok.

Tak ada sedikitpun keluhan. Tak ada.

Ia begitu sabar..

Ujian belum selesai. Semua harta bendanya menyusul pergi. Hangus. Mati. Dilanda kekeringan dan musim pancaroba.

Sama seperti sebelumnya, kesabaran Nabi Ayub tak tergoyahkan. Begitu seterusnya hingga Allah SWT memberikan ganjaran dan pahala yang luar biasa, sebagai buah dari kesabaran Nabi Ayub A.S.

 

Hikmah dari cerita nabi Ayub AS:

1. Tetap besabar walau musibah datang bertubi-tubi.

2. Keimanan yang kuat dan tidak tergoyahkan, atas cobaan yang mendera. Nabi Ayub AS tetap taat menjalankan kewajiban shalat 5 waktu walau kondisi tubuhnya sangat berat untuk melaksanakan itu.

3. Tahan terhadap penyakit, dan pantang berkeluh kesah.

4. pantang menyerah tidak mudah putus asa. Sangat berbeda dengan cerita di televisi yang seringkali di dramatisasi dengan adegan bunuh diri dan hilang semangat hidup saat tertimpa penyakit berat.

^^^^^^^^^^^^^^^^^^

Adakalanya, ketika perasaan ini ingin menangis, tertekan, merasa tak memiliki teman, saya seolah-olah menjadi orang yang paling menyedihkan di dunia.

Seperti malam ini.

Tapi Allah sangat adil. Cerita tadi menjadi bumerang yang melesat dengan indah. Menegur secara halus. Bahwa sesungguhnya seberat apapun cobaan, masalah, atau tekanan yang saya hadapi sekarang, tidak seberapa jika dibandingkan dengan cobaan yang menimpa nabi Ayub A.S.

- Riezka Amalia Faoziah.

Terima kasih, Tuhan.

Sungguh sempurna caraMu mengingatkanku.

Sabar itu permata. Allah bersama orang-orang yang sabar (An Nissa: 148).

Di sebuah Kastil

Suatu sore, di sebuah kastil yang indah berwarna merah muda,

dengan atap istana berbentuk kerucut berwarna biru keunguan,2 orang manusia sedang asik di pelataran. Mereka adalah sang puteri dan dayang-dayangnya yang setia.

Dayang-dayang: Untuk meneruskan tongkat estafet kerajaan negeri MerahJambu, Tuan Puteri harus memiliki pendamping. Kapan tuan putri akan menikah?
Puteri: dayang-dayang, aku hanya akan menikah setelah menemukan orang yang tepat.

Dayang-dayang: seperti apa pangeran yang tuan puteri inginkan, apakah yang bisa mendirikan istana bertabur permata yang tiang-tiangnya terbuat dari emas? Hamba akan sampaikan ke ayahanda, saya yakin keinginan tuanku akan terpenuhi.
Puteri : tidak perlu, dayang-dayang. Jawab sang puteri sambil tersenyum.

Dayang-dayang : Ah, atau.. tuan puteri ingin menikah dengan pangeran dari negeri tetangga? yang memiliki kekerabatan baik dengan kerajaan kita? Katakan saja tuan puteri. (ujar dayang-dayang bersemangat)
Puteri: hha. Tidak harus, dayang-dayang yang baik hati.

Dayang-dayang: oh.. saya tahu, tidak perlu malu, tuanku. Saya tau yang tuan puteri inginkan,pasti seorang pangeran yang rupawan? Benar kan!
Puteri: dayang-dayang yang baik,  sangat menyenangkan bila pangeranku nanti seperti yang dayang-dayang sebutkan tadi. Sebenarnya, aku menginginkan seorang pangeran yang bisa memenuhi satu syarat.

Dayang-dayang: apa syaratnya, tuanku? Pasti sangat rumit, tuanku pasti menginginkan seorang pangeran yang cerdas. bukan begitu, tuan puteri?
Putri: (tersenyum lagi). Tidak begitu, dayang-dayang. namun, jika suatu hari aku bertemu dengan seseorang cerdas yang bisa memenuhi syarat itu, maka aku tidak akan menolak.

Dayang-dayang: hmm, sebenarnya, seperti apa pangeran yang tuan puteri harapkan?
Puteri: seseorang yang mampu menjagaku, di dunia dan akhirat…

Sebab Aku Laki-Laki

Ada seorang anak perempuan bertanya kepada ayahnya, tatkala tanpa sengaja dia melihat sang ayah sedang bersantai di beranda sambil mengusap wajahnya yang mulai berkerut ditemani badan yang mulai membungkuk dan suara batuk-batuk.

Anak perempuan itu bertanya, “Ayah, mengapa wajahmu kian hari semakin berkerut?”

sang Ayah menjawab, “Sebab aku laki-laki.”

Anak perempuan itu berguman, ”Aku tidak mengerti.” dengan kening bingung karena jawaban tersebut justru membuatnya semakin diliputi rasa penasaran.

Ayahnya hanya tersenyum, lalu dibelainya rambut anak perempuan itu seraya berujar,

“Anakku, kamu memang belum mengerti tentang laki-laki.”

bisikan tersebut membuat anak perempuan itu bertambah bingung.

Karena penasaran, ia menghampiri ibunya untuk menanyakan hal yang sama, “Ibu, mengapa wajah ayah menjadi berkerut-merut? dan badannya kian hari kian terbungkuk. aku heran, walaupun begitu ayah tak pernah mengeluh dan kesakitan. Mengapa, Bu?”

sang Ibu menjawab, “Anakku, seorang laki-laki yang bertanggung jawab terhadap keluarga memang akan demikian.”

Hanya itu jawaban sang bunda, disertai senyuman. : )

Kini anak itu telah tumbuh menjadi wanita dewasa, tetapi dia tetap belum memiliki jawaban yang memuaskan.

Hingga pada suatu malam, ia bermimpi.

Di dalam mimpi dia mendengar suara yang sangat lembut, namun jelas sekali. Kata-kata yang terdengar ternyata rangkaian kalimat jawaban atas rasa penasarannya selama ini.

“Saat Ku ciptakan laki-laki, Aku membuatnya sebagai pemimpin sekaligus tiang penyangga bangunan keluarga, dia senantiasa akan menahan setiap ujungnya, agar setiap anggota keluarga merasa aman dan teduh terlindungi. “

“Kuberikan keperkasaan, kegagahan, dan mental baja yang membuat dirinya pantang menyerah. Dia akan merelakan kulitnya tersengat panas matahari, basah kuyup kedinginan, atau berdebu karena tiupan angin, demi bekerja keras menghidupi keluarga tercinta yang selalu dia ingat.”

“Kuberikan kesabaran, ketekunan, serta keuletan yang membuat dirinya selalu berusaha merawat, membimbing, dan membina keluarganya tanpa keluh kesah. Walau di perjalanan hidup, keletihan dan kesakitan kerap kali menyerang.”

“Kuberikan kebijaksanaan dan kemampuan padanya untuk memberikan pengetahuan. Ia mungkin tidak tahu jawaban akan segala sesuatu, tapi ia selalu membantu mencarikan solusi.”

“Kuberikan kerutan diwajahnya agar menjadi bukti bahwa laki-laki senantiasa berusaha sekuat daya untuk menemukan cara paling bijak pada setiap problematika. Tapi kerasnya perjuangan yang dilakukan, sebenarnya bersumber dari kelembutan hati. Bahkan saking tak kuasa menolak, laki-laki hanya sanggup berdalih, ‘tanyakan saja pada ibumu’ ketika ia ingin berkata tidak.”

Terbangunlah wanita itu, segera dia berlari, berlutut, dan bercengkrama memanjatkan pinta pada sang Pencipta hingga menjelang subuh. Tentunya, untuk ayahanda yang amat dikasihi.

Kemudian pagi-pagi sekali ia bergegas mengenakan kerudung, bersama sang ibu mengunjungi sebuah pusara. Disanalah jasad ayahnya terlelap, nyenyak dalam tidur yang panjang.

Ia menemui sang ayah, dan berbincang dalam bahasa doa.

~~~~~~~~~~~~~*~~~~~~~~~~~~~

فَأَمَّا الْيَتِيمَ فَلا تَقْهَرْ

“Sebab itu, terhadap anak yatim janganlah kamu berlaku sewenang-wenang.”

(QS. Adh-Dhuha: 9)

Pernah saya membuka flasdisk milik seorang teman (untuk keperluan PCM), dan secara tidak sengaja menemukan file notepad berisi tulisan yang belakangan ini baru saya ketahui adalah sebuah lirik lagu; Perfect. Menceritakan tentang keinginan seorang anak untuk menjadi sesempurna impian ayahnya. Link video di bawah juga saya copy dari halaman milik teman saya.

Ternyata, ayah teman saya tlah wafat, dan itu sudah sejak lama. Tapi sedikitpun tak pernah saya melihat ada lukisan sedih di wajahnya yang senang berkelakar.

Bagaimana dengan kita yang masih memiliki orang tua sempurna?

“Sembahlah Allah, janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu. Dan berbuat baiklah kepada kedua orang tua.. ”

(QS. An-Nisa: 36)

[ini cerita] Orang Gila

Cerpen Muhammad Ali Fakih (Republika, 19 Juni 2011)
dari lakonhidup.wordpress.com

SUDAH sekitar tiga bulan orang gila itu tinggal di kampung kami. Tidak ada yang tahu asal usulnya, seperti juga tidak ada yang tahu mengapa dia menjadi gila. Orang-orang hanya merasa kasihan dan bertanya-tanya, mengapa sanak keluarganya tidak mencarinya? Apakah dia tidak punya keluarga? Mengapa dia begitu betahnya di kampung kami?

Tak seorang pun yang peduli padanya. Barangkali pikir orang-orang, siapa pula yang mau peduli sama orang gila. Paling-paling kalau diajak bicara dia hanya ketawa-ketawa atau nyerocos tidak jelas. Tidak nyambung. Mending kalau tidak ngamuk, tapi kalau ngamuk? Tambah rumit urusannya.

Kerjaannya tiap hari hanya duduk-duduk di bawah pohon asam tua dekat pasar. Pagi-pagi ketika aku mengantar ibu ke pasar, pasti aku melihat dia duduk bersila menghadap ke barat, memejamkan mata sambil memutar-mutar tasbih dan mulutnya berkomat-kamit. Entah apa yang dibacanya, aku tidak tahu. Pikirku, mungkin dia baca mantra atau semacam zikiran yang dia sendiri tidak paham.

Biasanya aku ikut masuk ke dalam pasar bersama ibu. Tetapi, semenjak orang gila itu datang, aku kerap menunggu ibu di luar, di parkiran, kecuali jika ibu membutuhkan tenagaku. Hanya satu alasanku: ingin tahu lebih jauh tentang orang gila itu. Sebab, dia tampak lain dari orang gila lainnya. Dia pendiam, tidak nyerocos yang tidak jelas, dan tidak ngamuk-ngamuk seperti yang dipikirkan orang-orang.

Awalnya aku dimarahi oleh ibu karena alasan itu sehingga aku tidak mau ikut masuk ke pasar. Tetapi, aku ngeyel dan sedikit memaksa. Akhirnya, ibu mengerti. Malah beliau tersenyum tipis, menggeleng-gelengkan kepala, seperti menganggapku anak yang aneh. Kerap ketika sudah sampai di parkiran pasar, ibu menggodaku, “Sana tuh temenin pacarmu,” sambil menunjuk orang gila itu. Ah, ibu!

Pakaiannya serba hitam, kotor, dan kumal. Rambutnya panjang tak keruan. Tetapi, dia pakai songkok haji sehingga kelihatan agak rapi. Aku pikir dia tidak pernah mandi dan itu jelas dari wajahnya yang belepotan tanah. Yang bikin aku heran, dia itu tidak bau. Sama sekali tidak. Awalnya aku menduga mungkin hidungku tidak normal. Tetapi, setelah berkali-kali aku mendekatinya—tentu dengan cara yang sekiranya tidak norak—aku kemudian menjadi maklum.

Aku semakin bergairah ketika orang-orang bercerita bahwa dia sering wudhu ke kolam depan masjid selatan pasar, lalu kembali ke pohon asam yang sudah seperti rumahnya itu, dan shalat. Alih-alih shalat fardhu, dia shalat tak putus-putusnya. Selagi di “rumahnya” itu, dia shalat terus-menerus, seperti tidak kenal lelah. Atau kalau tidak, dia berkomat-kamit dan memutar-mutar tasbihnya, mungkin berzikir.

Yang membuatnya dianggap gila oleh orang-orang adalah bahwa dia tiap hari berjalan memutari desa dan memungut sampah-sampah di jalanan untuk hiasan di baju, celana, kaki, dan tangannya. Kadang juga sampah-sampah itu diwadahi plastik, dijinjing, dan dibawanya ke “rumahnya” itu. Sehingga pohon asam tua dekat pasar itu jadi seperti tempat penampungan sampah. Dan, gubuk kecil di dekatnya dibuat dari rakitan-rakitan sampah pula. Di jalan-jalan dia tersenyum-senyum dan kerap pula menangis tanpa ada sebab musababnya.

Kalau sedang lewat di rumah warga, orang-orang sering mencegahnya. Menjadikannya tontonan. Mengolok-oloknya. Mempermainkannya. Pernah suatu kali dia disekap oleh sekelompok pemuda dan kedua tangan dan kakinya diikatkan pada sebatang pohon. Lalu, mereka memanggil orang-orang. Bersama-sama dia digelitik, dipecut, dikasih makan sepat kelapa. Pokoknya diperlakukan tidak manusiawi.

Aku yang kebetulan lewat tempat itu, menyaksikan penyiksaan itu menjadi marah luar biasa. Darahku panas. Aku marahi mereka semua, tak pandang bulu, bahkan pun bapak-bapak dan ibu-ibu. Setiap yang mencegahku atau mengataiku yang tidak-tidak, aku tantang dia berkelahi.

Orang gila itu hanya diam ketika kulepaskan ikatan tampar di tangan dan kakinya. Matanya yang sayu meneteskan air mata. Rupanya dia tidak beringas seperti yang kukira. Kutuntun dia dan kubawa ke rumah. Ibu kaget melihat aku membawa dia. Beliau memarahiku. Aku meminta maaf. Kuceritakan kejadian tadi. Aku berkata pada ibu, barangkali dia lapar. Kasihan. Ibu pun akhirnya memaklumi.

Kusuguhi dia makanan. Tetapi, dia menolak. Katanya, dia sedang puasa. Mendengar jawaban itu aku dan ibu terperangah. Dia pasti bukan orang sembarangan, pikirku.

“Asal bapak mana?” tanya ibu.

“Asal saya dari langit dan mau kembali ke langit,” jawabnya serius.

Ibu menoleh kepadaku. Aku mengerutkan dahi.

“Maksud bapak?” timpalku.

“Kita sebenarnya lahir dari tanah yang sama, yaitu keabadian. Cuma karena dibutakan oleh kehidupan dunia, kita menjadi tidak saling kenal. Bahkan, banyak orang lupa asal-usulnya.”

Kami kian tidak mengerti maksud orang gila ini. Sekali lagi ibu menoleh kepadaku.

“Mengapa bapak sampai gila begini?”

“Aku tidak gila. Kalianlah yang sesungguhnya gila.”

“Tapi, mengapa bapak bertingkah seperti orang gila, memungut sampah dan menempelkannya pada baju dan tubuh bapak? Bapak juga sering tersenyum dan menangis tidak jelas.”

 

“Sekarang saya balik tanya, tidakkah lebih gila orang yang sedih kehilangan barangnya ketimbang shalatnya? Tidakkah lebih gila orang yang membicarakan kejelekan tetangganya dari pada tingkahku itu?”

Aku dan ibu terdiam. Ibu, seperti juga aku, mengerutkan dahi, seperti tidak percaya pada kata-kata yang keluar dari mulut si bapak ini.

“Orang-orang sibuk dengan dunianya sendiri. Bekerja terus-menerus, tidak pernah ingat pada tujuannya hidup di dunia. Katanya mereka memburu kebahagiaan, padahal sesungguhnya kesenangan. Tahukah kalian bahwa kesenangan dan kebahagiaan itu beda? Kesenangan muncul dari nafsu, sementara kebahagiaan dari hati. Kesenangan tidak pernah membuat kita puas, sementara kebahagian sebaliknya.”

Tiba-tiba si bapak oleng. Dia kejang-kejang. Aku dan ibu kaget bukan main. Kuambil secebok air dan kusiramkan ke muka dan tubuh si bapak. Ia sadar. Badannya terlihat lemas. Matanya setengah terbuka, setengah tertutup. Sayu. Dengus napasnya sedikit demi sedikit normal.

Lambat laun mata si bapak mengatup lagi. Napasnya tinggal sepenggal-sepenggal. Malaikat maut menemuinya—aku rasa—dengan mesra dan penuh cinta. Titik demi titik air mataku menetes. Ibu pun demikian. Kami merasa kehilangan. Kehilangan orang gila yang tidak kami kenal. (*)

Yogyakarta, 1 Januari 2010