Terore-roret

Alhamdulillah!

si hp nyala kembali, dengan 233 sms belum terbaca yang menghiasi layarnya. dan tepat, sudah dipastikan isi sms jadi ga up2date. karena kebanyakan dikirim sekitar 2-3 hari yang lalu :(

maaf, sahabat.. silaturrahim jadi terhambat.

Advertisements

[ini cerita] Petarung Bertangan Satu

Di Hawai, ada seorang cacat yang tidak memiliki tangan kanan sejak lahir, namun tangan kirinya normal. Sewaktu masih kecil, ia sering dihina dan diolok-olok oleh temannya. Iapun menjadi rendah diri (minder) karena kecacatannya…

~*~

Suatu hari, si anak cacat bertemu seorang guru beladiri (di Hawai banyak orang keturunan Jepang yang ahli beladiri), dan Guru itu bertanya kepadanya “Apakah kamu mau kalau saya mengajarimu ilmu beladiri supaya kamu menjadi percaya diri?” dijawab dengan semangat, “Mau, saya sangat mau!”

Akhirnya, orang cacat itu diajari satu jurus kuncian dan ia diminta untuk terus mempraktikkannya. Hingga berminggu-minggu, murid itu terus menerus mempraktikkan satu jurus yang itu-itu saja. Pada minggu ke-16, ia  merasa sudah pandai. Lalu berkata, “Guru, tolong ajarkan kepada saya jurus yang lainnya.” Gurunya menjawab,“Praktikkan jurus itu lagi, sekarang belajar lebih cepat, dan lebih kuat!” Setelah beberapa minggu, ketika muridnya mengatakan, “Guru saya sudah ahli.” Gurunya menjawab, “Kamu harus lebih kuat dan lebih cepat lagi, setelah itu kamu akan diberi lawan tanding!”

Setelah lama kemudia, sang guru bertanya, “Apakah kamu sudah ahli? Kalau memang merasa bisa, selanjutnya kamu bisa praktikkan dengan lawan tandingmu.”

Ternyata.. Jurusnya bekerja dengan sempurna, ia bisa mengalahkan pada lawan tandingnya dengan mudah! Guru si murid puas dengan hasil tersebut, dan berkata,

“Baiklah, sekarang kamu akan saya daftarkan dalam pertandingan bela diri berkelas.” Namun si murid berteriak, “Guru! Saya kan baru bisa menguasai satu jurus, tapi mengapa anda sudah mendaftarkan saya?” Gurunya menjawab, “Tidak masalah!” Kemudian sang murid berpikir, “Hemm, kalau saya didaftarkan ke suatu pertandingan, mungkin saya akan diajari jurus yang baru karena pertandingan masih 8 minggu lagi.” Ternyata tidak, dia tetap diajari satu jurus yang sama, satu jurus kuncian, terus menerus hanya diajari satu jurus itu.

Dalam latih tanding iia dapat mengalahkan semua lawan tandingnya. Lalu berkata, “Guru, apakah saya harus mengikuti pertandingan hanya berbekal satu jurus ini?” Gurunya menjawab, “Sudahlah, yang penting kamu terus praktik lawan tanding yang lebih cepat dan lebih kuat untuk menyempurnakannya.”

~*~

Tibalah hari pertandingan. Dan si murid tersebut tetap hanya menggunakan satu jurus untuk bertarung dengan semua lawannya.

Kemudian dia masuk babak semi final, dan dia berkata kepada gurunya, “Waduh guru….., sudah tiga kali saya menggunakan jurus ini, nanti saya akan ketahuan oleh lawan saya selanjutnya, please, tolong saya diajarkan jurus sakti yang lainnya agar saya bisa menang lagi”. Gurunya menjawab dengan tegas, “Sudahlah, kamu pakai jurus itu saja dengan lebih cepat dan lebih kuat.” Akhirnya. Dengan sedikit terpaksa murid itu maju ke babak semifinal dengan tetap menggunakan satu jurus tadi, dan ternyata lawannya dapat dikunci dengan cepat dan menyerah kalah!

Ia mencapai babak final. Kali ini lawannya adalah juara bertahan selama tujuh kali berturut2. Secara spontan ia berkata lagi kepada gurunya, “Waduh Guru, Kali ini saya benar2 tidak berkutik, dia juara bertahan dengan rekor tujuh kali mempertahankan gelar..” Murid itu tampak mulai tertekan dan berkata, “Tolong… ajari saya jurus sakti yang baru, tolonglah saya guru!” Gurunya menjawab, “Tidak! Kamu tetap masuk final hanya dengan satu jurus itu dengan lebih cepat dan lebih kuat lagi!”

~*~

Dan dengan terpaksa, sekali lagi ia bertanding melawan sang juara bertahan dengan hanya menggunakan satu jurus,  dalam waktu singkat saja.. ia menyerah kalah. Sang juara bertahan yang kalah! si murid merayakan kemenangannya dengan kegembiraan yang luar biasa. Malam hari ketika murid tersebut pulang, ia disambut dengan pesta yang amat meriah.

Saat semua sudah orang sudah pulang, tinggallah ia dan gurunya. Mereka duduk di tepi pantai melihat ombak yang menderu, memecah tepian pantai dalam sinar cerah bintang dan rembulan,

“Guru, saya tidak habis pikir, mengapa saya bisa jadi juara dengan hanya satu jurus?” sang Guru menjawab, “Ada dua hal mengapa kamu bisa menjadi pemenang. Pertama, Teknik kuncianmu itu adalah teknik kuncian yang paling hebat di dunia beladiri, sangat sulit diantisipasi, apalagi kalau kamu jalankan dengan kekuatan dan kecepatan yang luar biasa. Kedua, teknik kuncian kamu ini sebenarnya memiliki penawar agar bisa dihindari. Tetapi untuk melakukannya, lawanmu harus memegang tangan kanan orang yang menggunakan jurus itu.”

-Marketing Revolution. Tung Desem Waringin.-

Junkfood? no more!

5 Januari 2011

Bersama beberapa teman, kami menghadiri pernikahan salahsatu guru di tempat riez mengajar sekarang. Pernikahan teteh yang saya hadiri yakni angkatan 2004 (sebagai perbandingan, riez angkatan 2008 ya*biar keliatan mudanya :p).

kebetulan yang bisa hadir ke acara semuanya perempuan, maka terjadilah percakapan seru khas ibu-ibu!

Ada yang membuat saya miris, satu cerita duka tentang seorang anak didik salahsatu diantara kami. Masih kelas VI SD, tapi meninggal karena keracunan makanan which is called junkfood atau fastfood. sebagai orang awam, setahu sy junkfood adalah istilah yang berasal dari instansi kesehatan untuk makanan yang tidak sehat/sampah. Sedangkan kalangan industri, yang notabene mengedepankan profit sebagai prioritas, lebih sering menyebutnya fastfood. Tapi tidak semua fastfood itu junkfood. Mohon dikoreksi bila salah..

Mungkin karena sibuk orangtuanya jadi jarang masak di rumah, sehingga anak malang tersebut sering mengambil alternatif dengan membeli makanan cepat saji/fastfood yang konon sekarang sudah merajalela di Indonesia.

Kesimpulan dari saya..

Tidak perlu menunggu waktu 5-10 tahun untuk melihat dampak negatif dari fastfood, karena ternyata di usia yang masih belia saja, efek paling fatal (baca:kematian) sudah mengintai. :(

a quote from bang napi: Waspadalah! Waspadalah!