Di sebuah Kastil

Suatu sore, di sebuah kastil yang indah berwarna merah muda,

dengan atap istana berbentuk kerucut berwarna biru keunguan,2 orang manusia sedang asik di pelataran. Mereka adalah sang puteri dan dayang-dayangnya yang setia.

Dayang-dayang: Untuk meneruskan tongkat estafet kerajaan negeri MerahJambu, Tuan Puteri harus memiliki pendamping. Kapan tuan putri akan menikah?
Puteri: dayang-dayang, aku hanya akan menikah setelah menemukan orang yang tepat.

Dayang-dayang: seperti apa pangeran yang tuan puteri inginkan, apakah yang bisa mendirikan istana bertabur permata yang tiang-tiangnya terbuat dari emas? Hamba akan sampaikan ke ayahanda, saya yakin keinginan tuanku akan terpenuhi.
Puteri : tidak perlu, dayang-dayang. Jawab sang puteri sambil tersenyum.

Dayang-dayang : Ah, atau.. tuan puteri ingin menikah dengan pangeran dari negeri tetangga? yang memiliki kekerabatan baik dengan kerajaan kita? Katakan saja tuan puteri. (ujar dayang-dayang bersemangat)
Puteri: hha. Tidak harus, dayang-dayang yang baik hati.

Dayang-dayang: oh.. saya tahu, tidak perlu malu, tuanku. Saya tau yang tuan puteri inginkan,pasti seorang pangeran yang rupawan? Benar kan!
Puteri: dayang-dayang yang baik,  sangat menyenangkan bila pangeranku nanti seperti yang dayang-dayang sebutkan tadi. Sebenarnya, aku menginginkan seorang pangeran yang bisa memenuhi satu syarat.

Dayang-dayang: apa syaratnya, tuanku? Pasti sangat rumit, tuanku pasti menginginkan seorang pangeran yang cerdas. bukan begitu, tuan puteri?
Putri: (tersenyum lagi). Tidak begitu, dayang-dayang. namun, jika suatu hari aku bertemu dengan seseorang cerdas yang bisa memenuhi syarat itu, maka aku tidak akan menolak.

Dayang-dayang: hmm, sebenarnya, seperti apa pangeran yang tuan puteri harapkan?
Puteri: seseorang yang mampu menjagaku, di dunia dan akhirat…

3 thoughts on “Di sebuah Kastil

  1. Johan says:

    Putri: (tersenyum lagi). Tidak begitu, dayang-dayang. namun, jika suatu hari aku bertemu dengan pangeran cerdas yang bisa memenuhi syarat itu, maka aku tidak akan menolak.
    Dayang-dayang: memang, seperti apa pangeran yang tuan puteri harapkan?
    (masih ada harapan :) )
    Puteri: cukup seseorang yang bisa menjagaku, di dunia dan akhirat. (teu sanggup, bener-bener teu daya teu upaya :( :( :( )

  2. Argentum10 says:

    Baru sadar ada yang aneh di paragraf pertama. 2 orang manusia, putri dan “dayang-dayangnya”. kenapa dayangnya jamak? harusnya cuma ada satu dayang. hehe

KIRIM TANGGAPAN

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s