Sabar seperti Ayub

Rabu, 26 Oktober 2011

00.28

Adakalanya, ketika perasaan ini ingin menangis, tertekan, merasa tak memiliki teman, saya seolah-olah menjadi orang yang paling menyedihkan di dunia.

Seperti malam ini.

…………………………………………….

Saya ingin menangis, tertekan, merasa tak memiliki teman.

Dan entah kenapa, tiba-tiba saja ketika ba’da magrib saya berada diantara kerumunan anak-anak sekitar  kelas 3 SD,  terlintas dalam benak untuk bercerita tentang Nabi Ayub A.S.

^^^^^^^^^^^^^^^^^^

Belasan tahun silam rasanya belum begitu lama.

Masih lekat persis dalam ingatan, saat saya seumuran dengan mereka. :)

Mang Ujang, begitu sapaan akrab guru ngaji riezka, bercerita tentang kesabaran yang luar biasa dari sosok manusia yang dipilih oleh Allah SWT sebagai nabiNya, ialah Ayub Alaihi Salam.

Nabi Ayub adalah representasi paling pas, untuk sebuah kalimat bijak yang sering diucapkan oleh salahsatu teman yang menginspirasi, Memed Saebatul Hamdi, “… Kesabaran itu tidak ada batasnya.”

^^^^^^^^^^^^^^^^^^

Di tengah hartanya yang melimpah, pertanian yang begitu subur, ternak yang begitu makmur, anak-anak yang banyak, dan seorang istri yang shalehah, nabi Ayub diterpa musibah.

Borok-borok yang menimbulkan bau amis secara misterius menggerayangi seluruh tubuhnya. Hampir tak ada sejengkalpun bagian kulitnya yang tidak ditutupi borok.

Hal itu ditambah mengerikan dengan ratusan belatung(atau mungkin ribuan!) yang menggerogoti setiap borok nabi Ayub.

Dengan kondisinya yang memprihatinkan, tak pernah sedikitpun terlihat nabi Ayub mengeluh atau menitikkan air mata yang menunjukkan perih tiada terkira. Ia menerima ‘penyakit’ aneh tersebut dengan lapang dada. Bahkan, setiap kali hendak mandi, Nabi Ayub melepas satu persatu belatung pada boroknya.

Dulu Mang Ujang mempraktekan bagian ini dengan gerakkan tangan kanan seolah-olah menjepit benda kecil(belatung) dari tangan kiri secara berulang-ulang. :)

Bayangkan!

Satu persatu belatung itu ditaruh oleh nabi Ayub.

Dan selepas mandi, dengan penuh cinta dan kesabaran pada Tuhannya (Allah SWT), beliau  memunguti belatung-belatung kecil itu untuk ditempelkan kembali ke tubuhnya…. Subhanallah. Hanya Nabi Ayub yang sanggup.

Beruntung Nabi Ayub memiliki seorang istri yang shalehah, setia menemani walau orang-orang di sekeliling Ayub sudah menjauhi. Lantaran bau dan borok menjijikkan yang dianggap tidak wajar.

Cobaan datang lagi, anak-anak nabi Ayub meninggal secara beruntun tanpa diketahui penyakit yang mendera mereka. Istri Nabi Ayub tak setegar suaminya, ia memilih pergi meninggalkan Nabi Ayub karena sudah tak tahan dengan musibah kematian anak-anaknya. Ditinggal keluarga terdekat, samasekali tidak menggetarkan keimanan Nabi Ayub. Hal tersebut justru membuat dirinya menjadi semakin dekat pada sang Pencipta. Sekali lagi, hanya dzikir dan doa yang menghiasi mulut penuh borok.

Tak ada sedikitpun keluhan. Tak ada.

Ia begitu sabar..

Ujian belum selesai. Semua harta bendanya menyusul pergi. Hangus. Mati. Dilanda kekeringan dan musim pancaroba.

Sama seperti sebelumnya, kesabaran Nabi Ayub tak tergoyahkan. Begitu seterusnya hingga Allah SWT memberikan ganjaran dan pahala yang luar biasa, sebagai buah dari kesabaran Nabi Ayub A.S.

 

Hikmah dari cerita nabi Ayub AS:

1. Tetap besabar walau musibah datang bertubi-tubi.

2. Keimanan yang kuat dan tidak tergoyahkan, atas cobaan yang mendera. Nabi Ayub AS tetap taat menjalankan kewajiban shalat 5 waktu walau kondisi tubuhnya sangat berat untuk melaksanakan itu.

3. Tahan terhadap penyakit, dan pantang berkeluh kesah.

4. pantang menyerah tidak mudah putus asa. Sangat berbeda dengan cerita di televisi yang seringkali di dramatisasi dengan adegan bunuh diri dan hilang semangat hidup saat tertimpa penyakit berat.

^^^^^^^^^^^^^^^^^^

Adakalanya, ketika perasaan ini ingin menangis, tertekan, merasa tak memiliki teman, saya seolah-olah menjadi orang yang paling menyedihkan di dunia.

Seperti malam ini.

Tapi Allah sangat adil. Cerita tadi menjadi bumerang yang melesat dengan indah. Menegur secara halus. Bahwa sesungguhnya seberat apapun cobaan, masalah, atau tekanan yang saya hadapi sekarang, tidak seberapa jika dibandingkan dengan cobaan yang menimpa nabi Ayub A.S.

– Riezka Amalia Faoziah.

Terima kasih, Tuhan.

Sungguh sempurna caraMu mengingatkanku.

Sabar itu permata. Allah bersama orang-orang yang sabar (An Nissa: 148).

4 thoughts on “Sabar seperti Ayub

  1. Johan says:

    beliau tidak pernah mengeluh, hingga saat ‘penyakit’ hendak merusak lidahnya. Barulah Ia meminta kesembuhan.

    emang ku gelisah naon Neng ?

  2. asr says:

    mungkin qm aja kali riz yg menutup diri qm, ato krn sikap qm bikin orang jd enggan dan gak ngerti ma sikap mu? ato r**m qm bikin temen ga bisa bertamu ha ha ha…? lagian riska kan super duper very extremely sibuk gitu….jd ga ada waktu buat temen deh….ah…maap ya..sok tw ni aq….yah…do what u want girl….you’re not child anymore….!

    • riezka135 says:

      hmm,
      iya.. sepertinya demikian.. riezka sendiri yang sering menutup diri dan jarang mengkomunikasikan yang sebernarnya riezka inginkan. r**m?? hahaha, kayanya yang komen tahu betul kebobrokan si mpunya blog ini. huehehehe *ketawa setan* ;)
      waduh, tapi jarang ngobrol bukan berarti g ada waktu buat temen, kayanya anggapan saya yang salah selama ini sering berpikiran kalau sendiri itu menyenangkan ~_~”. thanks a lot, dear, u’re so take responsibility in me..

  3. Joko Pinter says:

    mengapa kamu mengatakan apa yang tidak kamu perbuat? jangan menjadi orang yg munafik

KIRIM TANGGAPAN

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s