Mendekat Pada Kematian

Berikut pengalaman riezka.. semoga ada manfaatnya. :)

=======================================

5 Juli 2013. Pemadaman listrik di daerah Sukapura di jalan Buah Batu Bandung, sering terjadi belakangan ini. Namun terjadi pada dini hari, dengan kondisi kamar gelap total tanpa seorangpun di kostan, aku baru mengalami…

Aku terbangun karena sebuah sentuhan sebuah dari seorang wanita berambut panjang, tangannya terasa sangat menekan, perlahan ia tidur disamping tempatku berbaring. Kutanya, ’siapa ini?’  Dijawabnya, ’mamah’. Aneh, tiba-tiba sekali beliau berkunjung ke kostan hingga menginap. Keheranan itu terjawab, dari bahasa sunda kuterjemahkan: ’tadi mamah kebetulan sedang di Bandung’. Ditengah suasana gelap karena mati lampu, aku percaya…

Setengah sadar, aku beringsut hendak bangun membereskan beberapa barang di atas kasur agar kami dapat berbaring leluasa, namun niat itu dihalaunya. Kulanjutkan tidur.

’Seperti mimpi..’ pikirku. Tapi ada sebuah ketenangan, karena aku meyakini dalam kegelapan ini aku tidak sendiri.

Beberapa menit kemudian, sepasang bola mata terbuka. Aku masih berada dalam kamar yang gulita, namun tak ada orang lain selain diriku sendiri di atas tempat tidur. Walau terasa nyata, sepertinya tadi hanya mimpi.

Keadaan itu menggiringku pada sebuah lamunan.. mungkin seperti inilah kondisi alam kubur: Tak ada cahaya. Tak ada suara. Tak ada siapa-siapa. Menanti pertanyaan munkar dan nakir, tanpa daya untuk berbicara karena hanya amalan semasa di dunia yang akan menjawabnya.

Aku lagi-lagi bermimpi, kembali pada masa ’sekolah agama’, berlatar di sebuah ruangan belajar Madrasah Hidayatul Islamiyah, kaum, jatiragas. Aku duduk di suatu bangku bersama seorang perempuan yang lebih dewasa. Pada salahsatu dinding kelas kami terdapat cermin yang begitu luas..

Aku bercermin, namun bayangan yang nampak adalah satu sosok buruk rupa. Amat hina. Ah.. Tak ada wajah dengan pantulan yang biasa terlihat.  Seolah adegan film, seisi kelas menatap cermin secara bersamaan, kami semua terlihat buruk.. sangat buruk. Sekilas kulihat teman sebangku-ku tak lebih mengerikan dari wajahku.

Inikah pantulan segala amalan? Maafkan.. maafkan.

Mungkinkah peringatan untuk lebih ’mendekat’? karena taubat tak akan lagi diterima di akhirat…

Betapa buruk, mengerikan.. hidung bulat berwarna hitam, mata juling tak elok dipandang. Peradaban membuat definisi cantik duniawi tidak selaras dengan keinginan Tuhan. Kulit putih, kaki jenjang, rambut terurai menarik, berbalut pakaian minim kain menjadi pedoman yang tidak tertulis. Tak ingin menjadi wanita budak masyarakat yang rusak. Allah berfirman, ”Sesungguhnya kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya” (QS. At Tin Ayat 4).  Teringat sebuah ayat ”Sesungguhnya semulia-mulia kamu di sisi Allah ialah orang yang lebih takwanya di antara kamu, dan Hadist khairunnas anfa’uhum linnas, ”Sebaik-baik manusia diantaramu adalah yang paling banyak manfaatnya bagi orang lain”.

Aku terjaga lagi. Memandang layar hp yang menjadi satu-satunya sumber cahaya kala itu, jam 3 pagi. Sebentar lagi subuh. Ketakutan menjalar ke kepala dari ujung kaki. Ingin hati memejamkan mata agar berangsur mengantuk lalu lelap, tapi tidak terjadi. Kegelapan ini berharap dinikmati. Akhirnya aku tenggelam dalam kesunyian. Kehidupan setelah kematian, alam kuburku.. Akankah segelap ini? Atau lebih pekat lagi?

=======================================

Berikut sebuah ayat yang dirasa pas sekali dengan kejadian ini,

Bagi orang-orang yang berbuat baik, ada pahala yang terbaik (surga) dan tambahannya. Dan wajah mereka tidak ditutupi debu hitam dan tidak (pula) dalam kehinaan. Mereka itulah penghuni surga, mereka kekal di dalamnya. ” QS. Yunus : 26

Adapun orang-orang yang berbuat kejahatan (akan mendapat) balasan kejahatan yang setimpal dan mereka diliputi oleh kehinaan. Tidak ada bagi mereka seorang pelindung pun dari (azab) Allah, seakan-akan wajah mereka ditutupi dengan kepingan-kepingan malam yang gelap gulita. Mereka itulah penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya”. QS. Yunus : 27

Manajer saya pernah mengatakan : hidup itu sebuah masa diantara Birth (B) dan Death (D). Dan huruf diantara keduanya adalah C untuk Choice. Pilihan. Cabang keputusan untuk berbuat baik atau buruk. Setiap langkah yang diambil seseorang adalah representasi sejauh mana tingkat kedekatan dia dengan Tuhan.

Sebuah renungan telak untuk saya.. dan pembaca bila ingin mengambil pelajaran. Semoga bunga tidur yang ditakdirkan singgah, tidak hanya menggetarkan sesaat lalu menguap di udara, tapi mengharumkan momentum ramadhan kita dengan buah manis amalan-amalan kebaikan.

Buruk rupa lebih baik daripada buruk amalan…

Tapi buruk amalan membuat rupa lebih buruk…

~*~

Riezka Amalia Faoziah

 

One thought on “Mendekat Pada Kematian

  1. Tagari says:

    great post :)

KIRIM TANGGAPAN

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s