Cerita pendek si Tukang Kayu

Seorang tukang kayu yang sudah lanjut usia ingin berhenti bekerja. Ia berharap bisa menikmati masa tua. Tukang ini merupakan kesayangan tuannya karena ia adalah Tukang Kayu terbaik pada masa itu. Ia sangat ahli dalam membuat rumah dari kayu.

tukang kayu

Tukang kayu ini kemudian mengemukakan keinginannya untuk pensiun. Tuannya menyetujui, tetapi dengan satu syarat. Dia meminta tolong kepada tukang kayu agar membuatkan satu rumah lagi sebelum berhenti bekerja.

“Hai Tukang kayu, sebelum berhenti, tolong buatkan saya sebuah rumah. Anggap saja ini rumah terakhir yang kamu bangun “. demikian ucapnya.

Si tukang kayu menyanggupi permintaan itu. Kemudian ia mulai mengerjakan pembuatan rumah. Selama proses membangun, ia tidak bekerja sepenuh hati.  Hatinya sudah dipenuhi oleh keinginan dan angan-angan untuk pensiun . Pekerjaan menyerut, mengepas, bahkan proses finishing dikerjakan dengan asal-asalan, tidak teliti.

‘yang penting rumah ini jadi’, pikirnya. Ia juga tidak begitu peduli dengan kualitas kayu-kayu yang digunakan.

Akhirnya, setelah tiga bulan bekerja, rumah pesanan sang Tuan selesai. Dan tentu saja rumah tersebut jauh dari indah seperti yang biasa ia buat.

Si tukang kayu lalu menghadap tuannya dan mengatakan bahwa permintaan terakhir sang Tuan telah terpenuhi. Seketika, Tukang kayu sangat kaget mendengar ucapan  tuannya,

“Selama ini  Bapak telah membuatkan banyak rumah indah untuk saya,

dan sekarang….

saya ingin memberikan rumah terakhir yang baru saja dibangun sebagai ucapan terima kasih saya untuk Bapak” demikian ujar sang Tuan yang baik hati.

rumah kayu

rumah kayu

Tukang kayu menyesal sekali. Mengapa ia tidak bersungguh-sungguh  ketika membuat rumah terakhirnya? Mengapa ia tidak memilih material paling baik, mengerjakan sepenuh hati, dan mendesain dengan indah seperti  yang biasa  ia lakukan?

Tapi nasi telah menjadi uduk bubur  *hehe, biar ga terlalu serius yang baca :) *

rumah itu telah selesai dibangun, dan ia akan menempati rumah terakhirnya untuk menikmati masa pensiun. mungkin ditemani rasa penyesalan seumur hidup.

Dalam kehidupan yang sebenarnya.  Tidak peduli kapan  kita akan berhenti. Apapun tugas yang diberikan oleh atasan, dosen, guru, orangtua, atau bahkan perintah dari Allah SWT,  harus sungguh-sungguh kita kerjakan.  Karena hasil dari ‘tugas’ tersebut, pada hakikatnya akan kembali untuk diri kita sendiri.

Selamat menjalani hidup dengan semangat. :)

Riezka Amalia Faoziah