Tanaman di Ladang

Tidak peduli jenis apa & berapa banyak pohon yang kita tanam di ladang, karena yang terpenting adalah menemukan titik paling tepat untuk memandang lahan dan menikmati keindahannya dari sudut yang terbaik…

Riezka Amalia Faoziah

Advertisements

[NIce quote] Feed a hundred people

If you can’t feed a hundred people, then just feed one.

by Mother Teresa.

Mother Teresa

disampaikan oleh Mesty Ariotedjo pada TEDxITT pada 11 Desember 2011, di Gedung Serba Guna Institut Teknologi Telkom.

Hadir juga sebagi pembicara:

  1. Ginan Koesmayadi, ex-ODHA yang berhasil bangkit dan sukses menjadi ‘hero’ sebagai founder Rumah Cemara, menyampaikan ‘talk’ dengan cara yang unik, menarik, serta terkadang menggelitik.
  2. DreamBender (dengan pembicara Rizky Ario Nugroho), Pemenang Imagine Cup 2011. Menyuguhkan ‘talk’ dengan properti yang futuristik, disertai demonstrasi langsung teknologi yang membantu tunarungu dan tunawicara dalam berkomunikasi.
  3. Ananta Van Bronckhorst, International Young Creative Enterpreneur. Mengangkat kesetaraan gender dengan pengaplikasian ‘melek internet’ bagi perempuan di seluruh dunia.
  4. Aghni Hasya Rif, murid kelas 5 SD dan berhasil membuat saya berkaca-kaca saat mendengar penuturannya dan motivasi polos ketika mendirikan Sekolah Ibu
  5. Suyanto, pakar Artificial Intellegence yang juga berstatus sebagai dosen IT Telkom. Cool.. merasa beruntung pernah mendapat kelas Pak Suy, begitu sapaan akrabnya, kami dibawa bak menjelajah eropa, negara tempat beliau mendalami sains AI.
  6. Deni Sugandi, Photografer dan pecinta seni

dari kiri ke kanan: Riezka Amalia Faoziah, Aghni Hasya Rif, Mesti Ariotedjo, Deni Sugandi, Ginan Koesmayandi, Rizky Ario, Pak Suyanto, Ghulam Tafrihi, Jaka Arya Pradana

Tulisan terkait (baca juga) :

Acara TEDxITT tema: Passionately Curious

[ini cerita] Kepakkan Sayap Elang

Seorang ahli biologi tengah berjalan melewati sebuah peternakan di sebuah desa, dengan tidak sengaja dia melihat  seekor anak elang yang hidup berbaur bersama dengan gerombolan anak ayam,  dia merasa sangat heran.

Dia lalu bertanya kepada pemilik peternakan, “Mengapa seekor elang yang sebenarnya adalah raja dari rumpun unggas, bisa hidup bersama dengan gerombolan ayam? Ini sulit dipercaya.”

Pemilik peternakan menjelaskan dengan berkata, “Karena saya setiap hari memberi dia makan dengan makanan ayam, menganggap dan melatih dia sebagai seekor ayam, membiarkan dia hidup sama persis dengan kehidupan ayam, maka burung elang tersebut tidak bisa terbang hingga sekarang. Segala tindak tanduknya sama persis dengan seekor ayam. Lama lama, sang elang  sudah menganggap dirinya adalah bagian dari gerombolan ayam-ayam , dan bukan sebagai seekor elang .”

Ahli biologi ini berkata, “Begitukah? Saya yakin watak hakiki itu tidak bisa berubah. Dia asalnya adalah seekor elang, seharusnya bisa segera terbang jika diajarkan terbang.”

Setelah ahli biologi dan pemilik peternakan melewati suatu perundingan, akhirnya pemilik setuju untuk mencoba mengajarkan elang itu untuk terbang.

Dia mengamati bagaimana ahli biologi itu perlahan-lahan meletakkan elang itu di atas lengannya, lalu berkata, “Kamu seharusnya terbang di atas langit yang biru, bukan berdiri di tanah, kepakkan sayapmu, terbanglah dengan gagah berani!”

Elang tersebut mendengarkan dengan penuh keraguan karena ia tidak memahami perkataan dari ahli biologi tersebut. Ketika dia melihat gerombolan ayam sedang mematuk makanan di atas tanah, elang melompat turun dan berkumpul dengan mereka.

Si ahli biologi tidak putus asa, dia membawa sang elang ke  atap rumah, seraya berkata, “Sebenarnya dirimu adalah seekor elang, kamu bisa terbang, bentangkan sayapmu dan terbanglah!”

Elang  merasa ketakutan terhadap dunia yang asing dan status dirinya yang tidak jelas. Ketika dia melihat bayangan dari gerombolan ayam, dia melompat turun,  ikut serta (lagi) mematuk makanan di atas tanah.

Hingga hari yang ketiga, ahli biologi sengaja bangun sangat pagi, membawa burung elang ini ke atas gunung. Raja unggas ini dia angkat tinggi di atas kepalanya, sekali lagi dengan nada yang penuh dengan keyakinan dia berkata, “Kamu benar-benar adalah seekor elang, kamu pemilik langit yang biru ini bukan pemilik kandang ayam yang kecil itu, bentangkan sayapmu kepakkan dan terbanglah dengan gagah berani!”

Elang itu menengok ke tanah pertanian yang berada di kejauhan, lalu melihat ke atas langit. Ragu-ragu untuk sejenak, tetapi masih tetap tidak mau terbang.

Ahli biologi itu sekali lagi menjunjung tinggi elang ke arah matahari. Selanjutnya, kemukjizatan terjadi! Tubuh elang mulai bergetar, lalu perlahan-lahan ia membentangkan sayapnya.  Sang elang terbang  dengan gagah memekikkan suara kemenangan. . .

elang

tulisan : epochtimes

sumber : http://www.epochtimes.co.id/kehidupan.php?id=119

Inspirasi dari cerita diatas
Elang di dalam cerita ini berbaur dan dibesarkan dalam gerombolan ayam , sehingga nalurinya sebagai seekor predator telah pudar. Ketika ia melepaskan diri dari lingkungan itu dan kembali ke jati diri yang sebenarnya, saat itulah ia telah memulihkan nalurinya untuk terbang diantara langit.

Manusia, sering  terpengaruh oleh apa yang terus-menerus dilihat dan didengar. Beruntung jika informasi tersebut positif, tapi bila negatif dan hanya membuat diri semakin kerdil? hal itu tidak bisa dibiarkan, sejatinya kita memiliki potensi besar yang disebut bakat.

Jika dapat mencampakkan belenggu (yang selama ini tanpa disadari sudah kuat merantai), dan dapat melompat keluar dari gangguan-gangguan hati, maka kita bisa kembali ke jati diri kita yang asli, mengembangkan sayap potensi.. dengan bebas, tak terikat.