Penjambretan di Atas Motor dan Tips Pencegahan

Sederetan factory outlet di jalan Riau-Laswi, Bandung, jadi saksi kejadian memilukan minggu lalu.

Konsekuensi jadwal kuliah yang hanya diakhir pekan mengharuskan saya bersama seorang teman, bermalam sabtu di jalan. Walau terkesan acuh, tapi hati saya selalu menguatirkan perjalanan pulang. Pukul 22.30 adalah waktu saat kehidupan mulai meredup, di antara gelap, apapun bisa muncul tiba-tiba atau hilang ditelan kedipan.

Malam itu…

Kami melewati rute biasanya. Pilihan terbaik menurut saya, yang pasti tercantum di google map sebagai shortest path dayeuh kolot-geger kalong namun ternyata saya salah.

Kesalahan berikutnya terjadi di perempatan jalan merdeka. Secara refreks, stang motor memilih belok kiri (melewati Riau junction) daripada lurus (melewati BIP dan Gramedia). Teman saya bertanya, ‘Ko ga lurus? Padahal kan lebih rame’. Hati saya menjawab: lebih cepat, biasanya juga lewat sini… rute tanpa belokan dengan lampu merah yang lebih sedikit.

Saya melambat dijalan Riau. Mengatur nafas karena baru kaget. Ada mobil yang hendak putar arah menyebrang jalan, hampir menabrak kami karena mengira tidak ada kendaraan lain di kaca spionnya.

Dalam kondisi lambat tersebut, tiba-tiba motor bergoyang. Saya kira teman yang dibonceng sedang mengantuk, lalu menggerakkan badan saat tersadar sedang tidur di atas motor. Gerakan yang tidak stabil itu terjadi agak lama. Saya yang tidak berpikir apapun selain menjaga keseimbangan, dikejutkan oleh teriakan agak serak dan tertahan, ‘maling!’ dari teman yang dibonceng bersamaan dengan tas tenteng yang jelas sudah berpindah tangan. Sebagai informasi, padahal teman saya menggunakan tas tenteng yang tengah didekap di area tengah jok motor. Sedangkan saya sendiri menggunakan tas punggung yang ditaruh di bagian belakang stir (motor matic).

Saya tersadar, daritadi saya-lah yang sebenarnya ‘tertidur’. Ketika motor bergoyang beberapa lama, rupanya teman saya sedang berebut-tarik dengan penjahat.

Motor saya pun terbangun. Mengaung terkesiap setelah ada tangan lain dari belakang, menindih tangan kanan saya untuk menyalip sebuah mobil. Teman saya ikut meng-gas. Panik. Di perempatan, buronan kami tertahan lampu merah.

Pengemudi motor besar, Kawasaki (tapi kata orang: Satria Fu) berwarna hijau, dengan helm fullface-nya menoleh ke belakang. Sang penjambret.

Kami tertinggal 10 meter di belakang. Sesaat, adegan itu meninggikan harapan untuk merebut kembali tas sengketa, namun terpatahkan oleh lampu hijau. Ada perasaan was-was, khawatir si penjahat mengancam dengan benda tajam. Namun kami tetap dalam misi pengejaran, diiringi riuh klakson dan pengumuman penjambretan. Kali ini ditemani 2 motor dengan 4 pemuda yang gagah berani. Mereka melaju lebih cepat dari kami.

Melewati 3 lampu hijau berikutnya, Entah Kawasaki atau Satria Fu yang juga berwarna hijau sudah tak tertangkap oleh mata. Saatnya pasrah. Motor saya menepi di pos security yang berpenghuni. 5 menit kemudian, 4 orang pemuda menghampiri, sahabat perjalanan yang dipertemukan oleh teriakan. Mereka menyerah belakangan dengan alasan yang sama, karena kehilangan buronan. Sudah musibah. Kerugian 7 juta rupiah tak ter-elakkan.

Kami ke kantor polisi untuk menyelesaikan administrasi. Menurut cerita, memang rute tersebut (Riau-Laswi-Jalan Pejuang 45) rawan kejahatan, akibat sepi dan lurusnya lintasan. Pedestrian juga pernah menjadi korban, tas-nya dijambret oleh komplotan : penumpang dan pengendara motornya.

Suatu hari, teman saya yang jadi korban bertanya, ‘kenapa kamu terlihat ketakutan banget waktu itu?’ (dari nadanya ada makna: aku aja sebagai korban ga gitu banget, weee). Sambil makan siang, sebelum satu suap sendok disantap saya menjawab, “Saya takut.. takut karena kaget dan perasaan bersalah.” Mungkin lebih baik jika saya mengikuti sarannya di awal dalam memutuskan rute pulang. Wallahu alam bisshawab.

Takdir. Meski jadi pemegang rekor 27 menit Gegerkalong-Bojong Soang (ehem). Meski di pagi hari sebelum kejadian itu, teman di tempat kerja sudah mewanti-wanti. Kun fayakun

Teringat Bu Tati, teman kuliah, pernah berujar, ‘Itulah musibah, pada saat Allah berkehendak, segigih apapun manusia mencegahnya, ya terjadilah…’ ketika beliau menceritakan phobianya tentang ketinggian. Kekhawatiran yang membesar setelah memiliki seorang putra membuat rumahnya sengaja di-setting tanpa loteng. Tak ada bayangan, anaknya yang berusia 5 tahun terjatuh juga dari lantai 2, di masjid dekat rumah, dengan wajah menghadap ke lantai. Lebam besar, namun selamat. Alhamdulillah.

Berikut sedikit tips untuk teman-teman perempuan yang memiliki mobilitas cukup jauh dari tempat tinggal dan mengendarai roda dua:

1. Selalu menggunakan aturan standar berkendara: memanfaatkan fungsi kaca spion dan lampu ‘sign’.

tips nomor 1

     <Baiklah, ilustrasinya memang tidak keren…>

2. Jaga kecepatan, tidak melaju lambat di jalan dengan penerangan yang minim.

3. Hindari jalanan sepi, terutama di malam hari.

tips nomor 2

4. Sebaiknya menggunakan tas selempang bertali panjang yang disimpan di pangkuan depan. Atau di bawah stir (diantara kaki), jika yang digunakan adalah tas ransel sehingga tidak terlihat mencolok. Hal ini berlaku juga untuk penumpang.

<Carilah satu perbedaan diantara dua gambar berikut !>

   Gambar A

tips nomor 4b

    Gambar B
tips nomor 4

<sudah ketemu khan> http://matcuoi.com

5. Berusaha tidak mengenakan jaket berwarna terang di malam hari. http://matcuoi.com 

Pernah terlanjur, akhirnya saya terpaksa menggunakan jaket double jas hujan sebagai kamuflase walau hari tidak hujan. <aneh ya?>

6. Menyimpan HP di jaket sebagai antisipasi, agar tetap bisa berkomunikasi jika sesuatu terjadi.

7. (based on experience) Sebaiknya waspada terhadap pengguna motor besar di jalanan yang sepi, khususnya yang memiliki 1 rekan/boncengan pria dewasa. Sang rekan kejahatan yang menjambret, motor besarnya adalah senjata untuk memudahkan pelarian setelah menjalankan aksi.

tips nomor 6

<sebaiknya selalu waspada, perhatikan kaca spion jika perlu, untuk menghindari orang bertampang aneh seperti ilustrasi di atas mencurigakan>

Demikianlah sekilas pengalaman beserta pelajaran dari berkendara di jalan raya. Mudah-mudahan bermanfaat.

Semoga kita senantiasa berada dalam lindungan Allah SWT, dimanapun saya dan rekan-rekan berada.

~*~

“Katakanlah, aku berlindung kepada Allah.

Dari kejahatan makhluk-Nya. 

Dan dari kejahatan malam apabila telah gelap gulita.”

(QS. Al Falaq: 1-3)

Aku Hidup Untuk Hari Ini

riezka135:

Catatan istimewa dari seorang sahabat blogger. Semoga kita dapat mengambil pelajaran.

Originally posted on Metha dian pramesti:

bikecycle-vintage-hd-wallpapers

Sepeda, kendaraan “ajaib” yang bisa membawa kita menjelajah dunia.

Semua orang pasti memiliki cita-cita dan mimpi, kalau seorang dokter pasti gak jauh-jauh dari keinginan menjadi dokter spesialis, dosen, professor, relawan ataupun ilmuan. Kita memang dianjurkan memiliki mimpi yang besar, jangan pernah meremehkan mahakarya Tuhan dengan pilihan hidup kita yang kerdil, jangan pernah melecehkan mahakarya Tuhan dengan aktivitas kita yang kecil. Apalagi kita cuman hidup sekali. Corazon Aquino pernah berkata “Aku lebih memilih mati secara berarti daripada hidup tanpa arti”. Hanya orang putus asa yang tidak memiliki ambisi untuk menjadikan hidupnya berarti. Suatu kazaliman yang tak terkira jika kita menjadikan karya yang begitu istimewa ini hanya numpang lewat dalam sejarah. Lahir, hidup, lalu mati tanpa meninggalkan warisan prestasi dan kontribusi.

Sedikit saya akan menceritakan mimpi dan cita-cita saya. Suatu saat nanti saya ingin menjadi spesialis jantung dan pembuluh darah atau spesialis anak, meneruskan pendidikan S2 atau bahkan S3 saya, menjadi…

View original 853 more words

Ia Maha Tahu

Pengalaman berikut untuk sebagian orang mungkin sudah biasa atau terdengar seperti lagu lama.

Tapi semoga tidak ada yang keberatan bila hari ini saya kembali memutarnya.. sebagai pengingat untuk saya dan Anda yang membutuhkan, ketika lupa akan nikmatNya.

Ia MahaMengetahui segala yang kita butuhkan, tidak sekedar yang kita inginkan. Bahkan, Ia juga tahu kapan waktu yang tepat bagi kita untuk memilikinya.

Hari ini saya mengimaninya sebagai saksi.

Persis satu minggu yang lalu, di satu momen saya memohon 2 permintaan.

“Berikan saya sepeda motor baru atau HP itu, ya Allah..”

saya tidak dapat sepeda motor baru, tapi beberapa uang tunai, yang satu hari setelahnya baru diketahui ternyata lebih diperlukan.

saya juga tidak mendapat HP pada saat itu, namun tiga hari setelahnya, seseorang mengantarkan pada saya sebuah telepon seluler secara cuma-cuma dengan jenis dan tipe yang sama persis ketika saya lihat saat berdoa.

Allah always Knows.

Tribute to Helena, sahabat yang pertama kali menyadari nikmat ini, pemilik http://helenairmanda.wordpress.com/

دْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ

“Berdoalah kepadaKu  niscaya akan Aku perkenankan bagimu…” (QS. Mukmin/Ghofir: 60)

lafadz from http://pesantrenvirtual.com/

~*~

Riezka Amalia Faoziah

Curahan tentang Pilpres

“Maka tersenyumlah Pak Prabowo! Anda telah menang, berhasil merebut hati ulama-ulama sejati, dan puluhan juta warga bangsa…,” tutur Adian Husaini.

~*~
Pak Prabowo ysh, pendukung Anda tidak hilang hanya karena pemilih Pak Jokowi yang menggunakan hak-nya, sedikit lebih banyak. :)
Harapan akhir Pilpres 2014:

Semoga bermuara pada kebaikan bagi semua pihak.

Motorcycle vs Field of Rice

Sebuah cerita di pertengahan tahun 2012…

Sekitar jam 10 pagi ini riezka naik motor gigi milik seorang teman. Hendak pergi sambil membawa magicjar ke tempat riezky (my brother), yang menunggu di bawah jembatan tol dekat Alfamart Buah Batu.

image from ceritamu.com

Ada 2 jalan alternatif sampai ke tujuan:

1. lewat jalan aspal tapi harus memutar,

2. atau lewat jalan kecil (pematang sawah) untuk memotong.

Saya memilih alternatif kedua. Saya suka tantangan. Hihihi. :p

Walaupun lebih bersahabat dengan matic, sebenarnya ini bukan kali pertama saya menggunakan motor gigi, motor koplingpun sudah ku taklukkan! *applouse: prok prok prok prok prok
terimakasih.. terimakasih…

baik, cukup.

—-cerita selingan—-

Pengalaman terakhir memakai kopling sewaktu di karawang, saat ada acara di sawah. Karena bosan, saya mengajak adik untuk jalan-jalan di daerah yang dikelilingi sawah. Menggunakan satu-satunya motor yang ada disana. Menyusuri jalan kecil khas pedesaan, sesekali melewati pemukiman padat atau kebun tak terawat.  Sekilas pikiran bergumam,  Kalau matic remnya ada di tangan, kopling giginya di tangan. Terus rem-nya dimana? satu lagi pertanyaan muncul waktu itu, kenapa pertanyaan ini baru terpikirkan sesaat sebelum menyambut tikungan?

Setelah setengah mati mengingat, saya mendapat ilham bahwa seperti motor gigi, sepertinya motor kopling juga memiliki rem di kaki. Saya memutuskan untuk mengerem,dan berhasil. Tapi saya lupa, dulu sempat jatuh atau tidak. Hehe.

—-cerita selingan selesai—-

Saya sampai di pematang sawah beraspal dengan lebar + 1,5 meter. Menggunakan motor gigi, dengan magicjar di stang sebelah kiri. Ada 4 tikungan dari kosan, 3 diantaranya terlewati dengan nafas lega. 1 yang terakhir berada persis di tengah sawah, dan itu yang memerlukan teknik membelok paling sulit karena menikung hampir 90 derajat. Melihat kiri-kanan terhampar sawah yang dipenuhi air, saya sangat takut terjatuh. Dan akhirnya terlewati sih… tapi… 3 meter setelahnya, saya tergolepak disana. Sekitar 3 menit dalam posisi tak bergerak (Nunggu dibantu). Naas, tak ada yang menolong. Heu.

But overall, im okay. Tatapan pertama, tertuju pada pergelangan kaki sebelah kiri yang terjepit tindihan motor. Sempurna sudah… belum sembuh betul kaki kanan karena terpeleset dari tangga. Sekarang yang kiri terjepit pula, sungguh pasangan kaki yang harmonis..

Saya betemu adik dengan senyum. Seolah dunia baik-baik saja sebelumnya.

~*~

HIkmah dari cerita ini… hmm, apa ya?

Hati-hati dalam berkendara, gunakan helm dan bawalah obat luka. Karena kecelakaan bisa terjadi dimana saja.

Satu lagi. Bila anda terjatuh, usahakan bangkit lagi. (lupakan prinsip lagu Butiran Debu yang suram itu).

Wassalam,

Riezka.