ilustrasi dari ruang-unikz.blogspot.com

Assalamualaikum, hai hai..!

Welcome back di Blog Riezka! Kali ini, saya sekedar ingin berbagi tips dan trik untuk adik-adik saat berpidato atau menyampaikan sambutan :

1. usahakan teks pidato dihapal (tidak dibaca), sehingga terlihat lebih lentur (tidak kaku).

2. berlatihlah di depan cermin untuk mengeksplorasi keterampilan berbicara. termasuk pemilihan gesture (gerakan) dan intonasi (tinggi rendah suara).

3. interaksi mata (contact eyes).

jangan menunduk, atau hanya memandang pada satu titik saja ketika berpidato. pandanglah semua hadirin secara menyeluruh untuk menguasai audiens.

4. lakukan latihan secara berulang hingga benar-benar lancar. bila perlu, ajak teman dan kerabat terdekat ketika latihan agar menghindari nervous di hari H.

5. senyum( A smile is the light in your window that tells others that there is a caring and sharing, -Denis Waitley).

hal yang kecil tapi penting. senyum adalah salahsatu cara jitu untuk mendapatkan empati dari audiens.

6. berdoa pada Tuhan YME, dan jangan lupa meminta restu dari orangtua sebelum naik mimbar.

oke adik-adik pembaca, goodluck ya. semoga berhasil. ;)

terima kasih sudah menyimak..

ada saran, kritikan, atau pendapat? :)

- Riezka Amalia Faoziah

Seorang tukang kayu yang sudah beranjak tua ingin berhenti bekerja. Dia ingin menikmati masa tuanya. Tukang ini merupakan kesayangan tuannya karena ia adalah Tukang Kayu terbaik pada masa itu. Ia sangat ahli dalam membuat rumah dari kayu.

tukang kayu

Tukang kayu ini kemudian mengemukakan keinginannya untuk pensiun. Tuannya menyetujui, tetapi dengan satu syarat. Dia meminta tolong kepada tukang kayu agar membuatkan satu rumah lagi sebelum berhenti bekerja.

“Hai Tukang kayu, sebelum berhenti, tolong buatkan saya sebuah rumah. Anggap saja ini rumah terakhir yang kamu bangun “. demikian ucapnya.

Si tukang kayu menyanggupi permintaan itu. Kemudian ia mulai mengerjakan pembuatan rumah. Selama proses membangun, ia tidak bekerja sepenuh hati.  Hatinya sudah dipenuhi oleh keinginan dan angan-angan untuk pensiun . Pekerjaan menyerut, mengepas, bahkan proses finishing dikerjakan dengan asal-asalan, tidak teliti.

‘yang penting rumah ini jadi’, pikirnya. Ia juga tidak begitu peduli dengan kualitas kayu-kayu yang digunakan.

Akhirnya, setelah tiga bulan bekerja, rumah pesanan sang Tuan selesai. Dan tentu saja rumah tersebut jauh dari indah seperti yang biasa ia buat.

Si tukang kayu lalu menghadap tuannya dan mengatakan bahwa permintaan terakhir sang Tuan telah terpenuhi. Seketika, Tukang kayu sangat kaget mendengar ucapan  tuannya,

“Selama ini  Bapak telah membuatkan banyak rumah indah untuk saya, dan sekarang saya ingin memberikan rumah terakhir yang baru saja dibangun sebagai ucapan terima kasih saya untuk Bapak” demikian ujar sang Tuan yang baik hati.

rumah kayu

rumah kayu

Tukang kayu menyesal sekali. Mengapa ia tidak bersungguh-sungguh  ketika membuat rumah terakhirnya? Mengapa ia tidak memilih material paling baik, mengerjakan sepenuh hati, dan mendesain dengan indah seperti  yang biasa  ia lakukan?

Tapi nasi telah menjadi uduk bubur  *hehe, biar ga terlalu serius yang baca :) *

rumah itu telah selesai dibangun, dan ia akan menempati rumah terakhirnya untuk menikmati masa pensiun. mungkin ditemani rasa penyesalan seumur hidup.

Dalam kehidupan yang sebenarnya.  Tidak peduli kapan  kita akan berhenti. Apapun tugas yang diberikan oleh atasan, dosen, guru, orangtua, atau bahkan perintah dari Allah SWT,  harus sungguh-sungguh kita kerjakan.  Karena hasil dari ‘tugas’ tersebut, pada hakikatnya akan kembali untuk diri kita sendiri.

Selamat menjalani hidup dengan semangat. :)

Riezka Amalia Faoziah

Tanaman di Ladang

25/12/2011

Tidak peduli jenis apa & berapa banyak pohon yang kita tanam di ladang, karena yang terpenting adalah menemukan titik paling tepat untuk memandang lahan dan menikmati keindahannya dari sudut yang terbaik…

Riezka Amalia Faoziah