Biarlah Berlalu

Mengapa kamu berhenti menulis? Sedang lembar kosong masih ada

Apakah tinta telah mengering atau kamu punya cerita baru

Apapun alasannya, kamu telah berhenti menulis

Aku tidak akan memaksa

 

Tulisanmu dan tulisanku pernah bersatu

Pada satu waktu, ketika pena tuhan menghendakinya

Aku tidak bisa menghentikan pasir waktu, untuk menggenggam kenanganmu

Biarlah berlalu

 

Biar kusimpan cerita kita di atas pohon

Menunggu angin meniup keping-keping perasaaan

Atau dibawa induk burung kepada anak-anaknya, sebagai pakan yang manis.

 

26 Agustus 2014

Aku Hidup Untuk Hari Ini

riezka135:

Catatan istimewa dari seorang sahabat blogger. Semoga kita dapat mengambil pelajaran.

Originally posted on Metha dian pramesti:

bikecycle-vintage-hd-wallpapers

Sepeda, kendaraan “ajaib” yang bisa membawa kita menjelajah dunia.

Semua orang pasti memiliki cita-cita dan mimpi, kalau seorang dokter pasti gak jauh-jauh dari keinginan menjadi dokter spesialis, dosen, professor, relawan ataupun ilmuan. Kita memang dianjurkan memiliki mimpi yang besar, jangan pernah meremehkan mahakarya Tuhan dengan pilihan hidup kita yang kerdil, jangan pernah melecehkan mahakarya Tuhan dengan aktivitas kita yang kecil. Apalagi kita cuman hidup sekali. Corazon Aquino pernah berkata “Aku lebih memilih mati secara berarti daripada hidup tanpa arti”. Hanya orang putus asa yang tidak memiliki ambisi untuk menjadikan hidupnya berarti. Suatu kazaliman yang tak terkira jika kita menjadikan karya yang begitu istimewa ini hanya numpang lewat dalam sejarah. Lahir, hidup, lalu mati tanpa meninggalkan warisan prestasi dan kontribusi.

Sedikit saya akan menceritakan mimpi dan cita-cita saya. Suatu saat nanti saya ingin menjadi spesialis jantung dan pembuluh darah atau spesialis anak, meneruskan pendidikan S2 atau bahkan S3 saya, menjadi…

View original 853 more words

Ia Maha Tahu

Pengalaman berikut untuk sebagian orang mungkin sudah biasa atau terdengar seperti lagu lama.

Tapi semoga tidak ada yang keberatan bila hari ini saya kembali memutarnya.. sebagai pengingat untuk saya dan Anda yang membutuhkan, ketika lupa akan nikmatNya.

Ia MahaMengetahui segala yang kita butuhkan, tidak sekedar yang kita inginkan. Bahkan, Ia juga tahu kapan waktu yang tepat bagi kita untuk memilikinya.

Hari ini saya mengimaninya sebagai saksi.

Persis satu minggu yang lalu, di satu momen saya memohon 2 permintaan.

“Berikan saya sepeda motor baru atau HP itu, ya Allah..”

saya tidak dapat sepeda motor baru, tapi beberapa uang tunai, yang satu hari setelahnya baru diketahui ternyata lebih diperlukan.

saya juga tidak mendapat HP pada saat itu, namun tiga hari setelahnya, seseorang mengantarkan pada saya sebuah telepon seluler secara cuma-cuma dengan jenis dan tipe yang sama persis ketika saya lihat saat berdoa.

Allah always Knows.

Tribute to Helena, sahabat yang pertama kali menyadari nikmat ini, pemilik http://helenairmanda.wordpress.com/

~*~

دْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ

“Berdoalah kepadaKu  niscaya akan Aku perkenankan bagimu…” (QS. Mukmin/Ghofir: 60)

lafadz from http://pesantrenvirtual.com/

Curahan tentang Pilpres

“Maka tersenyumlah Pak Prabowo! Anda telah menang, berhasil merebut hati ulama-ulama sejati, dan puluhan juta warga bangsa…,” tutur Adian Husaini.

~*~
Pak Prabowo ysh, pendukung Anda tidak hilang hanya karena pemilih Pak Jokowi yang menggunakan hak-nya, sedikit lebih banyak. :)
Harapan akhir Pilpres 2014:

Semoga bermuara pada kebaikan bagi semua pihak.

Motorcycle vs Field of Rice

Sebuah cerita di pertengahan tahun 2012…

Sekitar jam 10 pagi ini riezka naik motor gigi milik seorang teman. Hendak pergi sambil membawa magicjar ke tempat riezky (my brother), yang menunggu di bawah jembatan tol dekat Alfamart Buah Batu.

image from ceritamu.com

Ada 2 jalan alternatif sampai ke tujuan:

1. lewat jalan aspal tapi harus memutar,

2. atau lewat jalan kecil (pematang sawah) untuk memotong.

Saya memilih alternatif kedua. Saya suka tantangan. Hihihi. :p

Walaupun lebih bersahabat dengan matic, sebenarnya ini bukan kali pertama saya menggunakan motor gigi, motor koplingpun sudah ku taklukkan! *applouse: prok prok prok prok prok
terimakasih.. terimakasih…

baik, cukup.

—-cerita selingan—-

Pengalaman terakhir memakai kopling sewaktu di karawang, saat ada acara di sawah. Karena bosan, saya mengajak adik untuk jalan-jalan di daerah yang dikelilingi sawah. Menggunakan satu-satunya motor yang ada disana. Menyusuri jalan kecil khas pedesaan, sesekali melewati pemukiman padat atau kebun tak terawat.  Sekilas pikiran bergumam,  Kalau matic remnya ada di tangan, kopling giginya di tangan. Terus rem-nya dimana? satu lagi pertanyaan muncul waktu itu, kenapa pertanyaan ini baru terpikirkan sesaat sebelum menyambut tikungan?

Setelah setengah mati mengingat, saya mendapat ilham bahwa seperti motor gigi, sepertinya motor kopling juga memiliki rem di kaki. Saya memutuskan untuk mengerem,dan berhasil. Tapi saya lupa, dulu sempat jatuh atau tidak. Hehe.

—-cerita selingan selesai—-

Saya sampai di pematang sawah beraspal dengan lebar + 1,5 meter. Menggunakan motor gigi, dengan magicjar di stang sebelah kiri. Ada 4 tikungan dari kosan, 3 diantaranya terlewati dengan nafas lega. 1 yang terakhir berada persis di tengah sawah, dan itu yang memerlukan teknik membelok paling sulit karena menikung hampir 90 derajat. Melihat kiri-kanan terhampar sawah yang dipenuhi air, saya sangat takut terjatuh. Dan akhirnya terlewati sih… tapi… 3 meter setelahnya, saya tergolepak disana. Sekitar 3 menit dalam posisi tak bergerak (Nunggu dibantu). Naas, tak ada yang menolong. Heu.

But overall, im okay. Tatapan pertama, tertuju pada pergelangan kaki sebelah kiri yang terjepit tindihan motor. Sempurna sudah… belum sembuh betul kaki kanan karena terpeleset dari tangga. Sekarang yang kiri terjepit pula, sungguh pasangan kaki yang harmonis..

Saya betemu adik dengan senyum. Seolah dunia baik-baik saja sebelumnya.

~*~

HIkmah dari cerita ini… hmm, apa ya?

Hati-hati dalam berkendara, gunakan helm dan bawalah obat luka. Karena kecelakaan bisa terjadi dimana saja.

Satu lagi. Bila anda terjatuh, usahakan bangkit lagi. (lupakan prinsip lagu Butiran Debu yang suram itu).

Wassalam,

Riezka.